Sabtu, 30 Juni 2012

Ujungan, Kesenian Bekasi Yang Tergerus Pembangunan


 
Ujungan, mungkin kata ini terdengar asing di telinga anak-anak muda Bekasi pada era kini. Sebab kesenian Ujungan ini sudah jarang bahkan sulit ditemukan di daerah Bekasi. Untuk mengenalinya pun sangat sulit, karena tidak banyak literatur yang menceritakan secara detail asal mula kesenian ini muncul, terkenal, dan kemudian hilang nyaris tanpa jejak.

Seni ujungan merupakan jenis ketangkasan bela diri yang didalamnya terdapat perpaduan tiga jenis seni yaitu seni musik (Sampyong), seni tari-silat (Uncul), dan seni bela diri tongkat (ujungan). Menurut beberapa sumber, seni ujungan merupakan jenis kesenian tertua yang pernah ditemukan, pada era kerajaan Salakanegara (130M) berdasarkan naskah kuno Wangsakerta yang merupakan cikal bakal kerajaan besar di Jawa Barat. Ujungan merupakan suatu kesenian bela diri yang berkembang di Bekasi. Kata ujungan sendiri berasal dari Bahasa Sunda, Jung yang berarti dari lutut ke bawah. Kata ini berkembang menjadi ujung yang artinya kaki. Beberapa tokoh ujungan Bekasi mengatakan bahwa ujungan berasal dari kata ujung (bongkot, bahasa dialek Bekasi), baik ujung rotan maupun ujung kaki. Dalam bahasa Melayu, ujung berarti lawan kata dari pangkal atau garutan yang menonjol ke laut. Pengertian kata ujung dalam bahasa Melayu mempengaruhi kata-kata dalam bahasa Sunda. Dalam bahasa Melayu kata ujung berkembang dan kemudian menjadi kata yang umum digunakan dalam permainan ujungan.
 Kesenian ujungan ini lebih mirip seperti bela diri pada umumnya, namun para pemain dilengkapi dengan tongkat sepanjang 30 cm. Ujungan biasanya ditampilkan untuk merayakan pesta panen. Sehingga permainan ini dilakukan di tengah sawah yang sudah dipanen. Kesenian ujungan diiringi dengan musik sampyong dan totok. Lalu muncullah penari-penari (uncul) diarena dan mencari lawannya. Kemudian tersisa satu orang yang menari-nari, kawan lainnya kembali kekelompoknya masing-masing, dan terus menari. Setelah itu beboto (wasit dalam permainan) yang telah dipilih, melempar dua batang rotan ketengah-tengah pemain. Kemudian rotan tersebut diambil para pemain dan digunakan untuk bertanding. Para pemain tersebut membawa rotannya kekelompok masing-masing.
Saat itulah rotan tersebut diisi dengan magis yang ada padanya. Masing-masing dibalur dengan ubur-ubur laut, air keras dan lain sebagainya. Sekitar satu menit kemudian, beboto memanggil para pemain untuk memulai pertandingan. Sebelum bertanding beboto mengangkat rotan para pemain (diacungkan: bahasa Bekasi) dan ujung rotan tersebut disatukan. Kemudian permainan akan dimulai ketika beboto memberikan komando. Maka mulailah permainan ini. Para pemain memusatkan sasaran pada bagian kaki di bawah lutut. Dalam permainan ujungan ini, ujung kaki (jari-jari kaki, khususnya ibu jari) harus diperhatikan dan dipertahankan agar tidak terkena ujung rotan. Sebab akan menimbulkan luka berat bila terkena pukulan penjug (istilah dalam permainan ujungan). Menariknya dalam permainan ujungan ini terdapat dua hal yang perlu diperhatikan yakni Ujung Rotan dan Ujung Kaki.

Kini kesenian ujungan seolah hanyut bersama pesatnya pembangunan Bekasi. Bahkan tidak terdengar lagi alunan sampyong dan totok serta tarian Uncul yang merupakan tarian yang dilakukan sebelum mulainya permainan ujungan. Kini saatnya para generasi penerus untuk memperkenalkan dan melestarikan kesenian tersebut baik di dalam negeri maupun diluar negeri.



Kampung Naga

Lokasi Kampung Naga
Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur dengan batas wilayah sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ciwulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.
Cultural Attraction
·         Tugu Kujang

 Tugu Kujang Pusaka, sebuah tugu yang menggambarkan kejujuran, kekuatan, dan keberanian untuk mempertahankan kebenaran.Tugu ini diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat Bapak Ahmad Heryawan pada tahun 2009. Dalam sambutannya, Gubernur Jabar mengharapkan agar tugu tersebut tidak dijadikan jimat, tapi sebatas simbol.



·         Rumah Penduduk Kampung Naga
 Struktur bangunan tempat tinggal masyarakat kampung Naga memiliki keunikan. Hal ini tercermin dari bentuk bangunan yang berbeda dari bangunan pada umumnya termasuk letak, arah rumah hingga bahan-bahan yang membentuk rumah itu semuanya selaras dengan alam dan begitu khas. Dengan ketinggian kontur tanah yang berbeda-beda di tiap tempat, maka rumah-rumah di Kampung Naga di buat berundak-undak mengikuti kontur tanah. Deretan rumah yang satu lebih tinggi dari rumah yang lain dengan pembatas sangked-sangked batu yang disusun sedemikian rupa hingga membuat tanah yang di atas meski ada bangunannya tidak mudah longsor ke bawah dan menimpa rumah yang ada di bawahnya.
Rumah penduduk kampung  Naga berarsitektur panggung. Yang mana rumah-rumah tersebut berderet rapi  dan memanjang dari barat ke timur. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan.
Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga. Di depan rumah biasanya terdapat semacam teras atau serambi kecil yang digunakan untuk melakukan aktivitas dan berinteraksi dengan sesama penduduk. Menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.

·         Kerajinan kampung Naga 
 Bahan baku kerajinan yang mampu dibuat oleh masyarakat di Kampung Naga berasal dari bambu karena jumlah bambu yang mudah didapat atau membeli dari warga yang memiliki. Kerajinan ini dapat berupa tirai, tatakan minuman, dll. Adapun barang dari raja pola, yaitu tas, sandal, topi yang dapat diubah menjadi kipas, pensil kayu, dll.
·           Kesenian kampung Naga
kesenian terbangan

Kesenian kampung Naga merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga itu sendiri. Kesenian tersebut berupa terbangan, angklung, beluk, dan rengkong. Kesenian beluk kini sudah jarang dilakukan, sedangkan kesenian rengkong sudah tidak dikenal lagi terutama oleh kalangan generasi muda. 

Natural Attraction

Daya tarik obyek wisata Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyrakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memlihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besar Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan dan Wisatawan boleh mengikuti acara tersebut dengan syarat harus patuh pada aturan disana.    
Bangunan di Kampung Naga terdiri rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga. Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur.
Events
·           Nyepi
Upacara menyepi dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari selasa, rabu, dan hari sabtu. Upacara ini menurut pandangan masyarakat Kampung Naga sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik laki-laki maupun perempuan. Oleh sebab itu jika ada upacara tersebut di undurkan atau dipercepat waktu pelaksanaannya. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Melihat kepatuhan warga Naga terhadap aturan adat, selain karena penghormatan kepada leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan akan menimbulkan malapetaka.
·           Hajat Sasih

Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik yang bertempat tinggal di Kampung Naga maupun di luar Kampung Naga. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan yang mahaesa atas segala nikmat yang telah diberikannya kepada warga sebagai umat-Nya.
Upacara Hajat Sasih diselenggarakan pada bulan-bulan dengan tanggal-tanggal sebagai berikut:
  1. Bulan Muharam (Muharram) pada tanggal 26, 27, 28
  2. Bulan Maulud (Rabiul Awal) pada tanggal 12, 13, 14
  3. Bulan Rewah (Sya'ban) pada tanggal 16, 17, 18
  4. Bulan Syawal (Syawal) pada tanggal 14, 15, 16
  5. Bulan Rayagung (Dzulkaidah) pada tanggal 10, 11, 12
Pemilihan tanggal dan bulan untuk pelaksanaan upacara Hajat Sasih sengaja dilakukan bertepatan dengan hari-hari besar agama Islam. Penyesuaian waktu tersebut bertujuan agar keduanya dapat dilaksanakan sekaligus, sehingga ketentuan adat dan akidah agama islam dapat dijalankan secara harmonis.
Upacara Hajat Sasih merupakan upacara ziarah dan membersihkan makam. Sebelumnya para peserta upacara harus melaksanakan beberapa tahap upacara. Mereka harus mandi dan membersihkan diri dari segala kotoran di sungai Ciwulan. Upacara ini disebut beberesih atau susuci. Selesai mandi mereka berwudlu di tempat itu juga kemudian mengenakan pakaian khusus. Secara teratur mereka berjalan menuju mesjid. Sebelum masuk mereka mencuci kaki terlabih dahulu dan masuk kedalam sembari menganggukan kepala dan mengangkat kedua belah tangan. Hal itu dilakukan sebagai tanda penghormatan dan merendahkan diri, karena mesjid merupakan tempat beribadah dan suci. Kemudian masing-masing mengambil sapu lidi yang telah tersedia di sana dan duduk sambil memegang sapu lidi tersebut.
Adapun kuncen, lebe, dan punduh / Tua kampung selesai mandi kemudian berwudlu dan mengenakan pakaian upacara mereka tidak menuju ke mesjid, melainkan ke Bumi Ageung. Di Bumi Ageung ini mereka menyiapkan lamareun dan parukuyan untuk nanti di bawa ke makam. Setelah siap kemudian mereka keluar. Lebe membawa lamareun dan punduh membawa parukuyan menuju makam. Para peserta yang berada di dalam mesjid keluar dan mengikuti kuncen, lebe, dan punduh satu persatu. Mereka berjalan beriringan sambil masing-masing membawa sapu lidi. Ketika melewati pintu gerbang makam yang di tandai oleh batu besar, masing-masing peserta menundukan kepala sebagai penghormatan kepada makam Eyang Singaparna.
Hanya kuncen yang masuk ke dalam makam. Lebe dan Punduh hanya menyerahkan lamareun dan parakuyan kepada kuncen kemudian keluar lagi. Kuncen membakar kemenyan untuk unjuk-unjuk (meminta izin ) kepada Eyang Singaparna. Ia melakukan unjuk-unjuk sambil menghadap kesebelah barat, kearah makam. Arah barat artinya menunjuk ke arah kiblat. Setelah kuncen melakukan unjuk-unjuk, kemudian ia mempersilahkan para peserta memulai membersihkan makam keramat bersama-sama. Setelah membersihkan makam, kuncen dan para peserta duduk bersila mengelilingi makam. Masing-masing berdoa dalam hati untukmemohon keselamatan, kesejahteraan, dan kehendak masing-masing peserta. Setelah itu kuncen mempersilakan Lebe untuk memimpin pembacaan ayat-ayat Suci Al-Quran dan diakhri dengan doa bersama.
Selesai berdoa, para peserta secara bergiliran bersalaman dengan kuncen. Mereka menghampiri kuncen dengan cara berjalan ngengsod. Setelah bersalaman para peserta keluar dari makam, diikuti oleh punduh, lebe dan kuncen. Parukuyan dan sapu lidi disimpan di "para" mesjid. Sebelum disimpan sapu lidi tersebut dicuci oleh masing-masing peserta upacara di sungai Ciwulan, sedangkan lemareun disimpan diBumi Ageung.
Acara selanjutnya diadakan di mesjid. Setelah para peserta upacara masuk dan duduk di dalam mesjid, kemudian datanglah seorang wanita yang disebut patunggon sambil membawa air di dalam kendi, kemudian memberikannya kepada kuncen. Wanita lain datang membawa nasi tumpeng dan meletakannya ditengah-tengah. Setelah wanita tersebut keluar, barulah kuncen berkumur-kumur dengan air kendi dan membakar dengan kemenyan. Ia mengucapkan Ijab kabul sebagai pembukaan. Selanjutnya lebe membacakan doanya setelah ia berkumur-kumur terlebih dahulu dengan air yang sama dari kendi. Pembacaan doa diakhiri dengan ucapan amin dan pembacaan Al-fatihah. Maka berakhirlah pesta upacara Hajat Sasih tersebut. Usai upacara dilanjutkan dengan makan nasi tumpeng bersama-sama. Nasi tumpeng ini ada yang langsung dimakan di mesjid, ada pula yang dibawa pulang kerumah untuk dimakan bersama keluarga mereka.
·           Perkawinan
Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. adapun tahap-tahap upacara tersebut adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog (menginjak telur), buka pintu, ngariung (berkumpul), ngampar (berhamparan), dan diakhiri dengan munjungan.
Upacara sawer dilakukan selesai akad nikah, pasangan pengantin dibawa ketempat panyaweran, tepat di muka pintu. mereka dipayungi dan tukang sawer berdiri di hadapan kedua pengantin. panyawer mengucapkan ijab kabul, dilanjutkan dengan melantunkan syair sawer. ketika melantunkan syair sawer, penyawer menyelinginya dengan menaburkan beras, irisan kunir, dan uang logam ke arah pengantin. Anak-anak yang bergerombol di belakang pengantin saling berebut memungut uang sawer. isi syair sawer berupa nasihat kepada pasangan pengantin baru.
Usai upacara sawer dilanjutkan dengan upacara nincak endog. endog (telur) disimpan di atas golodog dan mempelai laki-laki menginjaknya. Kemudian mempelai perempuan mencuci kaki mempelai laki-laki dengan air kendi. Setelah itu mempelai perempuan masuk ke dalam rumah, sedangkan mempelai laki-laki berdiri di muka pintu untuk melaksanakan upacara buka pintu. Dalam upacara buka pintu terjadi tanya jawab antara kedua mempelai yang diwakili oleh masing-masing pendampingnya dengan cara dilagukan. Sebagai pembuka mempelai laki-laki mengucapkan salam yang kemudian dijawab oleh mempelai perempuan. Setelah tanya jawab selesai pintu pun dibuka dan selesailah upacara buka pintu.
Setelah upacara buka pintu dilaksanakan, dilanjutkan dengan upacara ngampar, dan munjungan. Ketiga upacara terakhir ini hanya ada di masyarakat Kampung Naga. Upacara riungan adalah upacara yang hanya dihadiri oleh orang tua kedua mempelai, kerabat dekat, sesepuh, dan kuncen. Adapun kedua mempelai duduk berhadapan, setelah semua peserta hadir, kasur yang akan dipakai pengantin diletakan di depan kuncen. Kuncen mengucapakan kata-kata pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan doa sambil membakar kemenyan. Kasur kemudian di angkat oleh beberapa orang tepat diatas asap kemenyan.
Usai acara tersebut dilanjutkan dengan acara munjungan. kedua mempelai bersujud sungkem kepada kedua orang tua mereka, sesepuh, kerabat dekat, dan kuncen. Akhirnya selesailah rangkaian upacara perkawinan di atas. Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada para undangan, tuan rumah membagikan makanan kepada mereka. Masing-masing mendapatkan boboko (bakul) yang berisi nasi dengan lauk pauknya dan rigen yang berisi opak, wajit, rengginang, dan pisang.
Beberapa hari setelah perkawinan, kedua mempelai wajib berkunjung kepada saudara-saudaranya, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. Maksudnya untuk menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan mereka selama acara perkawinan yang telah lalu. Biasanya sambil berkunjung kedua mempelai membawa nasi dengan lauk pauknya. Usai beramah tamah, ketika kedua mempelai berpamitan akan pulang, maka pihak keluarga yang dikunjungi memberikan hadiah seperti peralatan untuk keperluan rumah tangga mereka.

Entertainment
·           Fasilitas belanja

Di kampung Naga juga terdapat toko souvenir. Biasanya toko-toko ini menjual barang hasil kerajinan masyarakat kampung Naga. Bahan baku kerajinan yang dibuat oleh masyarakat di Kampung Naga berasal dari bambu karena jumlah bambu yang mudah didapat atau membeli dari warga yang memiliki. Kerajinan ini dapat berupa tirai, tatakan minuman, dll. Adapun barang dari raja pola, yaitu tas, sandal, topi yang dapat diubah menjadi kipas, pensil kayu, dll.

Kearifan Lokal Masyarakat Suku Jawa di Kabupaten Wonosobo daerah pedesaan


Indonesia terdiri atas berberapa provinsi yang di dalamnya terdapat beragam suku pada setiap daerahnya. Setiap daerah yang terdiri atas berbagai suku dapat dipastikan memiliki susunan adat istiadat yang berbeda. Hal ini dikarenakan dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak akan terlepas dari adat istiadat. Adat istiadat yang ada selalu mempengaruhi kehidupan sosial dan aturan yang berlaku dalam masyarakat. Adat istiadat tersebut dapat mendorong serta menjadikan kelompok masyarakat lebih mengedepankan nalurinya sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain yang berada di sekitarnya. Hal ini terjadi pada suku jawa yang tersebar di berbagai kabupaten. Yang mana setiap masyarakatnya masih memperlihatkan kearifan lokal yang ada dalam sukunya. Seperti dalam sistem gotong royongnya. Disini sangat terlihat kerjasama yang kompak antar masyarakatnya. Gotong royong atau tolong menolong dapat terbentuk dari tindakan-tindakan yang saling timbal balik. Jika dibantu, maka harus kembali membantu begitu pula bila diberi, maka harus kembali memberi. Sistem gotong royong Suku Jawa di kabupaten Wonosobo biasanya diterapkan dalam peristiwa yang berhubungan dengan tahap kehidupan manusia.
Tolong menolong tersebut dapat tercermin dari peristiwa kelahiran, perkawinan, serta kematian. Aktivitas tolong menolong dalam acara perkawinan ada yang bersifat spontan dan tidak spontan. Tolong menolong yang bersifat spontan dalam acara perkawinan sangatlah sedikit atau terbatas. Hanya terbatas pada sanak saudara atau keluarga. Sifat yang spontan ini tidak dapat mencukupi persiapan yang telah direncanakan. Sehingga kebanyakan dari masyarakat suku Jawa di kabupaten wonosobo menggunakan cara yang bersifat tidak spontan. Cara ini diawali dengan permintaan yang punya hajat kepada tetangganya yang biasa dikenal dengan istilah “sambatan”. Jika tidak dengan diminta maka tidak akan ada yang membantu meski tetangga dekat sekali pun. Dari aktivitas tolong menolong ini terdapat pernyataan sakilah yang menarik :
“walau semua bisa beres karena semua keluarga ikut terlibat, tetapi sederek (tetangga) kanan-kiri harus tetap dijawili (dimintai pertolongan), supaya tetap pasederekanipun (tetap akrab), karena semua pasti akan mengalami hal yang sama. Ada pula istilah “tangga sing disambat-sebut dhisik dhewe” (tetangga yang pertama akan dimintai pertolongan).
Pernyataan ini menyiratkan makna adanya timbal balik dalam hal tolong menolong serta antar tetangga yang saling menjaga keharmonisan.
            Di daerah pedesaan wonosobo peristiwa kelahiran bayi pada umumnya diperingati oleh warga masyarakat setempat dengan acara “lek-lekan”. Akan tetapi kebiasaan ini tidak semua daerah di wonosobo masih melakukan, pada umumnya dalam peristiwa kelahiran tidak disertai aktivitas tolong-menolong yang sifatnya pengerahan tenaga, atau “rewang”, dan tidak ada sumbang menyumbang. Pada saat kelahiran bayi sampai pusar putus (puput) ada acara “lek-lekan” yang dilakukan para lelaki yang sudah berumah tangga. Orang-orang yang biasa disambat dalam acara ini adalah tetangga, tokoh masyarakat dan orang yang dituakan. Pada peristiwa kelahiran tolong menolongnya pun sebenarnya tidak tampak, yang terlihat hanyalah gambaran rasa kebersamaan melalui acara lek-lekan. Yang menyatakan  menyatakan kegembiraan adanya kelahiran seorang bayi. Orang-orang yang mengikuti acara lek-lekan dianggap telah memberikan pengorbanan untuk ikut mendoakan dan tidak tidur semalaman. Yang mana acara lek-lekan ini umumnya bersifat tidak spontan, yakni dengan ditembung (diminta) datang ke acara tersebut.
            Aktivitas tolong menolong dalam peristiwa kematian yang terjadi bersifat spontan. Spontanitas mereka dalam hal ini sangat universal (menyeluruh). Tanpa diminta mereka langsung mendatangi tempat keluarga yang terkena musibah tersebut untuk memberikan bantuan yang bersifat spiritual maupun material. Solidaritas ini tidak sebatas membantu dan memberikan perhatian kepada keluarga yang terkena musibah, tetapi juga saat slametan untuk yang meninggal. Kembali tetangga dan saudaralah yang terlibat dalam acara penyelenggaraan slametan tersebut. Dapat disimpulkanbahwa tolong menolong dalam peristiwa ini bersifat meringankan beban kesedihan keluarga yang ditinggalkan.
            Selain tolong menolong dalam hal peristiwa yang berkaitan dengan tahap kehidupan, ada pula tolong menolong dalam pembuatan rumah. Tolong menolong jenis ini lazim nya berlaku di pedesaan. Di Wonosobo terdapat berbagai cara pelaksanaan membuat rumah. Ada yang bersifat formal dan non-formal. Bersifat formal bila pelaksanaannya telah dikoordinir sedemikian rupa seehingga aktivitas tolong menolong tersebut menjadi suatu keharusan. Sedang yang bersifat non-formal, lebih mengarah kepada spontanitas warga setempat untuk ikut membantu meringankan beban warga yang mendirikan rumah. Pada intinya sistem gotong royong ini didukung dari partisipasi masyarakatnya yang selalu terlibat dan melibatkan diri dengan sesamanya.

Rabu, 28 Desember 2011

Teropong Bintang Boscha


Bosscha
Observatorium Bosscha merupakan tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha didirikan pada tanggal 1 Januari 1923 oleh Perhimpunan Bintang Hindia Belanda pada masa penjajahan dulu. Pembangunan observatorium ini semula bertujuan untuk memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda (Indonesia).
Observatorium yang sebagian besar didanai oleh Karel Albert Rudolf Bosscha seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar ini bertempat di kawasan Lembang, tepatnya 15 kilometer di bagian utara Kota Bandung, Jawa Barat. Berada di atas tanah seluas 6 hektar dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, membuat kawasan ini dianggap cocok menjadi tempat mengamati bintang-bintang, planet-planet dan benda-benda langit lainnya, selain memberikan udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, karena dulu pada masa pembangunannya dalam radius lima kilometer daerah ini relatif masih kosong sehingga masih terbebas dari polusi cahaya yang bisa mengurangi kualitas pembentukkan citra atau hasil pengamat terhadap benda langit yang sedang diamati.
Observatorium terbaik di Asia Tenggara ini mempunyai lima buah teleskop besar, yaitu Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, Teleskop Schmidt Bima Sakti, Teleskop Refraktor Bamberg, Teleskop Cassegrain GOTO dan Teleskop Refraktor Unitron. Setiap teleskop mempunyai spesifikasi tersendiri dan digunakan untuk keperluan berbeda-beda. Setiap tahun sekitar 60.000 orang, yang 80%nya adalah pelajar, mengunjungi observatorium ini untuk melihat temuan pakar-pakar dunia atas benda-benda langit. Sejak didirikan, tak kurang 500 kertas kerja telah dihasilkan oleh Observatorium Bosscha.

Masjid Agung Demak


Masjid Agung Jawa Tengah merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia. Masjid dengan arsitektur indah ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2006. Kompleks masjid terdiri dari bangunan utama seluas 7.669 meter persegi dan halaman seluas 7.500 meter persegi.  Masjid Agung Jawa Tengah terletak di jalan Gajah Raya, tepatnya di Desa Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.
Masjid yang mampu menampung jamaah tidak kurang dari 15.000 ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2006. Upacara peresmian ditandai dengan penandatanganan batu prasasti setinggi 3,2 m dan berat 7,8 ton yang terletak di depan masjid. Prasasti tersebut terbuat dari batu alam yang berasal dari lereng Gunung Merapi.
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Jawa Tengah juga merupakan obyek wisata terpadu pendidikan, religi, pusat pendidikan, dan pusat aktivitas syiar Islam. Dengan berkunjung ke masjid ini, pengunjung dapat melihat keunikan arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Roma dan Arab. Arsitektur Jawa terlihat pada beberapa bagian, misalnya pada bagian dasar tiang masjid menggunakan motif batik seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan. Ciri arsitektur Timur Tengah (Arab) terliat pada dinding masjid dinding masjid yang berhiaskan kaligrafi. Selain itu, di halaman Masjid Agung Jawa Tengah terdapat 6 payung hidrolik raksasa yang dapat membuka dan menutup secara otomatis yang merupakan adopsi arsitektur bangunan Masjid Nabawi yang terdapat di Kota Madinah. Masjid ini juga sedikit dipengaruhi gaya arsitektur Roma. Gaya itu nampak pada desain interior dan lapisan warna yang melekat pada sudut-sudut bangunan.
Selain bangunan utama masjid yang luas dan indah, terdapat bangunan pendukung lainnya. Bangunan pendukung itu di antaranya: auditorium di sisi sayap kanan masjid yang dapat menampung kurang lebih 2.000 orang. Auditorium ini biasanya digunakan untuk acara pameran, pernikahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sayap kiri masjid terdapat perpustakaan dan ruang perkantoran yang disewakan untuk umum. Halaman utama masjid yang terdapat 6 payung hidrolik juga dapat menampung jamaah sebanyak 10.000 orang.
Keistimewaan lain masjid ini berupa Menara Asmaul Husna (Al Husna Tower) dengan ketinggian 99 m. Menara yang dapat dilihat dari radius 5 km ini terletak di pojok barat daya masjid. Menara tersebut melambangkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Dipuncak menara dilengkapi teropong pandang. Dari tempat ini pengunjung dapat menikmati udara yang segar sambil melihat indahnya Kota Semarang dan kapal-kapal yang sedang berlalu-lalang di pelabuhan Tanjung Emas. Di masjid ini juga terdapat Al qur`an raksasa tulisan tangan karya H. Hayatuddin, seorang penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-qur`an dari Wonosobo, Jawa Tengah. Tak hanya itu, ada juga replika beduk raksasa  yang dibuat oleh para santri Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas, Jawa Barat.
Di area Masjid Agung Jawa Tengah terdapat berbagai macam fasilitas seperti perpustakaan, auditorium, penginapan, ruang akad nikah, pemandu wisata, museum kebudayaan Islam, cafe muslim, kios-kios cenderamata, buah-buahan, dan lain-lain. Selain itu, terdapat juga berbagai macam sarana hiburan seperti air mancur, arena bermain anak-anak, dan kereta kelinci yang dapat mengantarkan pengunjung berputar mengelilingi kompleks masjid ini.
Untuk memasuki kawasan Masjid Agung Jawa Tengah, pengunjung tidak dipungut biaya. Namun, jika pengunjung ingin memasuki area tertentu seperti Menara Asmaul Husna, pengunjung diwajibkan membayar Rp 3.000 per orang untuk jam kunjungan antara pukul 08.00-17.30 WIB. Dan apabila pengunjung datang pada jam 17.30-21.00 WIB tarif tersebut meningkat menjadi Rp 4.000 per orang. Untuk pengunjung yang ingin menggunakan teropong yang terdapat di Menara Asmaul Husna itu, maka pengunjung harus mengeluarkan ongkos tambahan sebesar Rp 500,- per menit.
Pada saat liburan, masjid banyak di kunjungi wisatawan yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan beberapa turis mancanegara, khususnya muslim banyak yang meluangkan waktu berkunjung ke masjid ini untuk beribadah sekaligus berwisata.